“Pagi Bu”,itulah sederet kalimat yang hampir selalu aku ucapkan setiap hari ketika aku memasuki ruang kerjaku. Aku melakukanya karena bos kecilku selalu datang lebih pagi dari aku-hampir tiap hari selalu seperti ini keadaanya-. Tapi pagi itu berbeda aku malas untuk menyapa atau menegurnya, aku abaikan saja sesosok perempuan yang ada disebelah mejaku itu. Aku langsung menuju ke kursi hitam dan membuka tas rangsel yang aku bawa. Belum juga sampai ke meja kerjaku ia langsung memanggilku “Pak coba kemari”, panggilan itu tidak seperti biasanya kali ini berbeda. Aku melihat mimik wajahnya berbeda,seumpama makanan ada rasa manis yang sangat manis hingga muncul rasa pahit. Akupun mendekat ke mejanya dan memasang tampang ogah – ogahan. “Aduh kenapa saya tidak pernah memperhatikan kamu,ya?” dibarengi dengan senyuman dan sedikit rasa malu bercampur ketegasan karena nada bicaranya agak tinggi. Ia mengatakan itu sambil melihat ke ujung kakiku,akupun dapat menangkap apa kata – kata yang akan muncul berikutnya karena pandangan matanya itu, pasti ia akan menasehati aku karena setiap datang saat bekerja atau saat pulang aku selalu menggenakan sandal bukan sepatu.Ya aku memang malas bersepatu,dari dulu aku tak pernah mengenakan yang namanya sepatu,bahkan saat kuliahpun aku selalu memakai sandal kecuali saat ujian karena pada saat ujian jelas ada peraturan yang terpapang di papan pengumuman kalau ujian harus mengenakan sepatu.
“ Pak kalau datang pakailah sepatu,nanti jika di ruangan boleh ganti dengan sandal,tetapi saat keluar ruangan atau keluar dari kantor pakailah lagi sepatu”. Itu inti kata – kata yang meluncur dengan kecepatan mobil formula 1 dari mulut bos kecilku. Akupun cuma berkata”lo saya kan selalu begini Bu tiap hari” dan ia pun langsung memotong pembelaanku dan mengucapkan beberapa nasehat yang kusimpulkan bahwa aku harus nurut saja. Sehari sebelumnya aku juga mendapat teguran dari petugas keamanan tapi teguran itu tidak aku pedulikan.
Akupun berfikir baiklah mulai besok aku akan ikuti nasehat bos kecilku,tapi ada sesuatu yang aneh aku rasa ada yang janggal. Akupun bengong sendiri melamun” apa yang harus aku takuti?dia itu manusia biasa juga seperti aku,dia makan nasi, kenapa aku harus takut pada bos kecilku ya, padahal kemarin petugas keamanan telah memperingatkanku tapi aku abaikan,kenapa sekarang saat bos kecil yang memperingatkanku aku harus mengikutinya,kenapa saat petugas keamanan itu menasehatiku aku mengabaikanya”. Hal ini jelas menandakan bahwa aku melakukan apa yang dinasehatkan mereka berdua bukan karena kesadaranku sendiri akan peraturan memakai sepatu jika ke kantor – aku belum pernah membaca pada peraturan bahwa selagi bekerja harus mengenakan sepatu – tapi aku melakukanya karena rasa takut atau tidak enak hati kepada atasanku. Aku merasa ini tidak adil sangat tidak adil bagi petugas keamanan itu dan lagi makin jelas jika aku menuruti nasehat bos kecilku berarti aku telah salah besar,aku telah menjadi manusia yang lemah karena tidak melakukan suatu tindakan karena kesadaranya sendiri melainkan karena berlatar belakang TAKUT.
Selain itu ada satu lagi keanehan yang aku dapatkan dari masalah sepatu ini. Kenapa mereka hanya berani menasehati orang yang keberadaanya berada di bawahnya – sebagai bawahan, teman, atau orang yang lebih muda – ,kenapa kebanyakan orang – oang yang ada di lingkungan kerjaku tidak berani memberi nasehat kepada mereka yang ada di atasnya – atasan atau orang yang lebih tua-. Apakah ini yang dinamakan kesopanan pada kebudayaan orang timur,apakah kebudayaan seperti ini bisa mengalahkan suatu kebenaran,bah aku malah pusing memikirkanya?
Akhirnya kuputuskan untuk tetap memakai sandal pada hari berikutnya. Aku tidak ingin menjadi manusia lemah,aku tidak ingin menjadi manusia yang tidak adil, biarlah nanti aku dimarahi toh itu menandakan bahwa mereka masih perhatian dengan diriku,mereka masih menganggapku ada bukan cuma iklan yang hanya numpang lewat saja. Tapi aku teringat juga pesan yang diomongkan oleh senior – senorku di padepokan IJOIRENG GL-49,”Sebelum dirimu dapat merubah dunia rubahlah dulu negaramu,jika belum mampu juga turunkan satu level menjadi rubahlah lingkungan sekitarmu,jika masih belum mampu juga turunkan pada level terendah dalam perubahan yaitu rubahlah dirimu sendiri menuju arah yang lebih baik”. Sepertinya keputusan yang telah kubuat ada cacatnya juga, sepertinya aku harus bertanya hitam diatas putih mengenai sepatu ini. Dan jika memang ada aku pasti akan patuh pada peraturan itu karena memang itu peraturan yang benar dan aku yakin peraturan itu d buat untuk menuju tatanan yang lebih baik – walau tidak semua peraturan seperti ini-.



