SEPATU

•Juli 4, 2008 • Tinggalkan sebuah Komentar

“Pagi Bu”,itulah sederet kalimat yang hampir selalu aku ucapkan setiap hari ketika aku memasuki ruang kerjaku. Aku melakukanya karena bos kecilku selalu datang lebih pagi dari aku-hampir tiap hari selalu seperti ini keadaanya-. Tapi pagi itu berbeda aku malas untuk menyapa atau menegurnya, aku abaikan saja sesosok perempuan yang ada disebelah mejaku itu. Aku langsung menuju ke kursi hitam dan membuka tas rangsel yang aku bawa. Belum juga sampai ke meja kerjaku ia langsung memanggilku “Pak coba kemari”, panggilan itu tidak seperti biasanya kali ini berbeda. Aku melihat mimik wajahnya berbeda,seumpama makanan ada rasa manis yang sangat manis hingga muncul rasa pahit. Akupun mendekat ke mejanya dan memasang tampang ogah – ogahan. “Aduh kenapa saya tidak pernah memperhatikan kamu,ya?” dibarengi dengan senyuman dan sedikit rasa malu bercampur ketegasan karena nada bicaranya agak tinggi. Ia mengatakan itu sambil melihat ke ujung kakiku,akupun dapat menangkap apa kata – kata yang akan muncul berikutnya karena pandangan matanya itu, pasti ia akan menasehati aku karena setiap datang saat bekerja atau saat pulang aku selalu menggenakan sandal bukan sepatu.Ya aku memang malas bersepatu,dari dulu aku tak pernah mengenakan yang namanya sepatu,bahkan saat kuliahpun aku selalu memakai sandal kecuali saat ujian karena pada saat ujian jelas ada peraturan yang terpapang di papan pengumuman kalau ujian harus mengenakan sepatu.

 

“ Pak kalau datang pakailah sepatu,nanti jika di ruangan boleh ganti dengan sandal,tetapi saat keluar ruangan atau keluar dari kantor pakailah lagi sepatu”. Itu inti kata – kata yang meluncur dengan kecepatan mobil formula 1 dari mulut bos kecilku. Akupun cuma berkata”lo saya kan selalu begini Bu tiap hari” dan ia pun langsung memotong pembelaanku dan mengucapkan beberapa nasehat yang kusimpulkan bahwa aku harus nurut saja. Sehari sebelumnya aku juga mendapat teguran dari petugas keamanan tapi teguran itu tidak aku pedulikan.

 

Akupun berfikir baiklah mulai besok aku akan ikuti nasehat bos kecilku,tapi ada sesuatu yang aneh aku rasa ada yang janggal. Akupun bengong sendiri melamun” apa yang harus aku takuti?dia itu manusia biasa juga seperti aku,dia makan nasi, kenapa aku harus takut pada bos kecilku ya, padahal kemarin petugas keamanan telah memperingatkanku tapi aku abaikan,kenapa sekarang saat bos kecil yang memperingatkanku aku harus mengikutinya,kenapa saat petugas keamanan itu menasehatiku aku mengabaikanya”. Hal ini jelas menandakan bahwa aku melakukan apa yang dinasehatkan mereka berdua bukan karena kesadaranku sendiri akan peraturan memakai sepatu jika ke kantor – aku belum pernah membaca pada peraturan bahwa selagi bekerja harus mengenakan sepatu – tapi aku melakukanya karena rasa takut atau tidak enak hati kepada atasanku. Aku merasa ini tidak adil sangat tidak adil bagi petugas keamanan itu dan lagi makin jelas jika aku menuruti nasehat bos kecilku berarti aku telah salah besar,aku telah menjadi manusia yang lemah karena tidak melakukan suatu tindakan karena kesadaranya sendiri melainkan karena berlatar belakang TAKUT.

 

Selain itu ada satu lagi keanehan yang aku dapatkan dari masalah sepatu ini. Kenapa mereka hanya berani menasehati orang yang keberadaanya berada di bawahnya – sebagai bawahan, teman, atau orang yang lebih muda – ,kenapa kebanyakan orang – oang yang ada di lingkungan kerjaku tidak berani memberi nasehat kepada mereka yang  ada di atasnya – atasan atau orang yang lebih tua-. Apakah ini yang dinamakan kesopanan pada kebudayaan orang timur,apakah kebudayaan seperti ini bisa mengalahkan suatu kebenaran,bah aku malah pusing memikirkanya?

 

Akhirnya kuputuskan untuk tetap memakai sandal pada hari berikutnya. Aku tidak ingin menjadi manusia lemah,aku tidak ingin menjadi manusia yang tidak adil, biarlah nanti aku dimarahi toh itu menandakan bahwa mereka masih perhatian dengan diriku,mereka masih menganggapku ada bukan cuma iklan yang hanya numpang lewat saja. Tapi aku teringat juga pesan yang diomongkan oleh senior – senorku di padepokan IJOIRENG GL-49,”Sebelum dirimu dapat merubah dunia rubahlah dulu negaramu,jika belum mampu juga turunkan satu level menjadi rubahlah lingkungan sekitarmu,jika masih belum mampu juga turunkan pada level terendah dalam perubahan yaitu rubahlah dirimu sendiri menuju arah yang lebih baik”. Sepertinya keputusan yang telah kubuat ada cacatnya juga, sepertinya aku harus bertanya hitam diatas putih mengenai sepatu ini. Dan jika memang ada aku pasti akan patuh pada peraturan itu karena memang itu peraturan yang benar dan aku yakin peraturan itu d buat untuk menuju tatanan yang lebih baik – walau tidak semua peraturan seperti ini-.

 

 

Semoga tetap hidup

•Juni 26, 2008 • Tinggalkan sebuah Komentar

Boz bisa tanya – tanya nih ma kamu?”sahut temanku”

bisa”jawabku”-kebetulan malem ini mata belum bisa merem-gak ada salahnya kalo ngobrol dengan teman baruku-,obrolan pun berjalan dan dia menanyakan masalah posting yang kukirim di malinglist kami beberapa waktu yang lalu. ya posting yang kukirim memang agak beda atau dianggap liar bagi kebanyakan anggota mailing list ini. terang saja karena apa yang aku tulis dalam pesan itu tak lain adalah hal yang dianggap sebagai sesuatu yang tabu atau haram bagi komunitas kami ini. kuberikan alasanku menulis posting itu dan terpancar diwajahnya raut muka keheranan kenapa aku dapat keluar dari sistem. bahkan teman baru ini memberi gambaran resiko yang akan aku terima jika masih mempertahankan idialisme konyol ini-menurut kebanyakan anggota dalam komunitasku-aku hanya dapat tersenyum saja dalam hatiku ini. timbul pertanyaan besar dalam otakku,mengapa orang sulit sekali menerima sesuatu yang berbeda dan menyimpang dari sistem. mereka berasumsi bahwa sistem yang ada sudah sangat ideal dan mapan sehingga jika ada gagasan baru sulit sekali diterima. Atau memang ada yang salah dengan diriku?- sampai saat ini aku meyakini tidak ada yang salah dalam diriku-. Aku masih meyakini bahwa perbedaan dapat membawa suatu sistem kearah yang lebih maju, karena dengan perbedaan itu maka akan timbul suatu dinamisme yang akan memperkaya perbendaharaan permasalahan dan tentu saja hal ini akan berimpas pada semakin kokohnya sistem yang telah ada. Aku pun masih meyakini bahwa kemapanan adalah musuh dari perubahan karena dengan merasa mapan maka tidak ada lagi yang perlu diperbaharui dan dikaji ulang karena memang sudah mapan dan tidak perlu lagi untuk melakukan perubahan, apalagi perubahan pasti membutuhkan pengorbanan dan peras otak serta tidak ada jaminan bahwa dengan perubahan pasti akan menjadi lebih baik. Tapi lebih baik kita bertindak daripada diam saja kata orang jawa”luweh apek mati umek daripada mati jejeg”.

Tak terasa jarum jam sudah menunjukkan pukul 11, kamipun beranjak pergi ke kamar masing – masing. Ya saat ini aku bersama komunitasku memang sedang menerima suatu pelatihan yang wajib diikuti bagi new commer. Ternyata mata ini masih belum bisa merem juga akhirnya kutegak obat tidur yang aku minta dari dokter yang juga new commer dalam komunitas ini. Sebelum terpejam terlintas dalam kepalaku apa mereka kurang menyadari makna dari perbedaan, mereka kurang paham betapa perbedaan dapat memberikan rahmat. sepertinya aku akan dianggap manusia aneh yang membawa hawa setan di komunitas baruku ini, tapi biarlah satu hal yang penting aku harus bisa memposisikan diri dan tidak lemah menghadapi ini. semoga harta berharga yang aku miliki ini yang sebagian orang kenal dengan idialisme masih bisa tetap terjaga. aku tetap harus hidup untuk sesuatu yang aku anggap penting dan tetap yakin usaha sampai untuk kemajuan.

 

 

SELAMAT PAGI KOTAKU TERCINTA

•Juni 25, 2008 • Tinggalkan sebuah Komentar

Pagi itu tidak seperti pagi – pagi sebelumnya selepas sholat subuh berjamaah di langgar yang tak jauh di sebelah rumah aku melakukan jalan – jalan pagi dengan menunggangi sepeda onta milik bapakku. Pada akhir bulan Agustus ini memang cuaca kurang bersahabat, sang bulan pun tak menampakkan batang hidungnya sejak kemarin malam, angin yang mengalir membawa pesan yang seolah – olah mengisyaratkan seseorang untuk tinggal dirumah saja. Aku tak mempedulikan pesan yang dibawa oleh bulan dan angin,aku tetap melakukan jalan pagi di pagi hari seperti yang kuinginkan. Hari ini aku ingin mengambil rute menyusuri pantai yang terkenal dengan pelabuhan terbesar pada era Majapahit dulu,ya itu pelabuhan Boom. Dengan semangat aku mulai melangkah meninggalkan rumah dan menuju Pantai Boom. Sesampainya di pantai itu aku hirup dalam – dalam udara pantai di pagi yang kurang bersahabat itu, aku pandang lepas lautan yang ada di depan,samping kiri dan kananya ya di pantai itu memang memungkinkan kita berada di posisi seperti ini dikelilingi oleh air laut. Hal ini tak lain karena adanya gundukan tanah yang dibuat sebagai galangan dan menuju ke arah laut seperti tongkat Nabi Musa yang memecah lautan menjadi dua bagian dan memberikan jalan bagi Musa untuk menyebrangi laut itu. Jika berada di ujung dari gundukan itu maka posisi kita akan dikelilingi oleh laut. Seperempat jam aku menikmati pemandangan yang ada di sekitarnya, melihat para penahluk lautan kembali ke daratan dengan memikul jinjing beisi hasil laut yang akan menompang hidup semua isi rumahnya , mendengar sorak ramai anak – anak pantai menyambut kehadiran sang surya walaupun sepertinya pagi ini sang surya malu untuk menampakkan wajah gagahnya, merasakan betapa damai hidup di kota seribu wali ini dengan penduduk yang kolot tapi santun dan bersahaja.

Rute kembali kerumah aku coba untuk melewati alun – alun dan berbelok ke kiri menyusuri jalan menuju makam Maulana Mahdum Ibrahim. Tepat berada di pintu makam langit menangis sejadi – jadinya tanpa memberikan aba – aba. Tak ayal aku mencari tempat untuk berteduh,tidak begitu jauh dari pintu makam tepatnya sebelah kanan dari arah matahari terbit ada warung ketan aku langsung masuk ke warung itu. Ketan ,kopi manis setunggal”sahutku”. Aku duduk di kursi panjang yang panjangnya sama persis dengan meja yang ada di depanya. Mas harga ketanya naik lo ya”kata penjual ketan”. aku pun mengganguk dan memberikan smile face kepada penjual ketan memberikan isyarat bahwa aku memakluminya. Ya saat ini memang saat – saat yang susah bagi sebagian orang karena harga minyak baik minyak tanah ataupun goreng memang agak sulit dijangkau oleh masyarakat bawah belum lagi ditambah naiknya harga BBM yang membuat harga barang – barang kebutuhan pokok ikut naik. Hanya dua kata ya ada di hatiku “sabar dan ikhlas” ya semoga penjual ketan itu tetap sabar dan ikhlas menghadapi ini semua, mungkin ini adalah ujian yang diberikan pada negeri ini untuk menuju maqom yang lebih tinggi atau mungkin ini adalah peringatan bagi kita semua bahwa terlalu banyak dosa yang telah kita lakukan dan membuat Sang Kholik murka. Semoga kita menyadarinya dengan segera dan melakukan perbaikan.

Dalam warung itu lantang terdengar lagu yang  cukup akrab ditelingaku , disampingku pemuda yang hampir seusia dengan umurku dengan lirih mengikuti lagu itu. 

Kutemui diri ini mencoba untuk berlari mengejar angan

Tetapi semakin ku jauh semakin siksa terasa

Berlahan ku mengerti arti sebuah kehidupan yang kudamba

Harapan dan asapun hadir di saat gelap menghalang

Semua luka dalam diri ini kini sirna berganti ceraku slalu

Dan ku ucapkan

Selamat pagi hari ini kutemui sebuah kisah suci

Selamat pagi kubuka lembaran baru yang telah lama terbuang hilang

Kusambut hari ini……………………”

Mendengar lagu ini aku berpikir apa yang telah aku capai sejauh umurku ini, apakah aku telah menjadi manusia yang berguna bagi orang disekitarku, apakah semua yang aku inginkan telah dapat dengan pasti kugenggam tanpa ada yang terluka sedikitpun, apakah aku telah dapat merubah diriku sendiri seperti yang diamanahkan kedua orang tuaku sebelum aku dapat merubah lingkungan disekitarku. Ternyata aku masih sulit untuk menjawab itu semua karena aku tak memiliki keberanian untuk mengakuinya.

Satu jam aku menunggu akhirnya langitpun menghentikan tangisnya dan dengan senyum dan kata yang santun bumi menghaturkan rasa terimakasihnya kepada langit karena telah memberikan anugrah yang terindah pada pagi itu. Sesuatu yang terkadang dipandang sebagai sesuatu yang menggangu akan tetapi bila kita dengan santun dan cerdas menyikapinya ternyata masih menyimpan manfaat yang berguna bagi apa yang ada disekitarnya. Kukeluarkan uang sepuluh ribu dan kuberikan pada penjual ketan itu,kuterima kembalian delapan ribu rupiah. Aku agak kaget ternyata di kota ini uang dua ribu rupiah sudah dapat membuat perut lumayan kenyang untk ukuran laki – laki. Aku memastikanya takut penjual itu salah menghitung atau lupa, ternyata ibu itu mengatakan sudah benar perhitungan yang ia lakukan. Ya kota ini memang kota yang sangat ramah pada semua orang ,semoga keramahan ini tetap terjaga. Aku pun keluar dari warung itu dan kukayuh sepeda onta bapakku untuk segera pulang. Sepanjang jalan kupandangi bangunan – bangunan yang ada di kanan kiriku,tak banyak berubah masih seperti yang dulu. Kulewati jalan yang dulu setiap hari kususuri dengan kakiku ini ketika pergi ke sekolah semasa SD,madrasah, dan SMA. Untuk yang ini banyak yang berubah sepanjang jalan telah tumbuh bangunan – bangunan baru, tapi aku tidak lupa sedikitpun tentang jalan – jalan ini karena lebih dari sepuluh tahun aku melawatinya hampir setiap pagi dan sianghari,bahkan letak pohon – pohon sono yang ada dikanan kiri jalanpun aku paham betul meskipun pohon – pohon sono itu kini telah tumbuh lebih tinggi dari pada aku. Padahal dulu pohon itu jauh di bawahku kini mereka telah jauh meninggalkanku walaupun umurnya masih lebih muda daripada aku. Dan aku yakin pohon – pohon itu telah memberikan manfaat bagi apa yang ada disekitarnya baik secara sadar ataupun tidak sadar. Kukembalikan pada diri,aku ingin seperti pohon – pohon itu tapi apakah aku mampu? . aku hanya dapat berangan dan berdoa semoga lembaran baru yang telah lama hilang terbuang dapat kutemukan kembali dan aku dapat menyambut hari ini untuk melangkah dengan lebih mantap. Satu hal yang harus tetap aku  tanamkan dalam – dalam ke dalam hatiku yaitu tetap yakin usaha sampai ( yakusa ).

 

 

Hello world!

•Juni 24, 2008 • 2 Komentar

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.